Click for Jakarta Observatory, Indonesia Forecast
Tampilkan postingan dengan label uniknya dunia hewan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label uniknya dunia hewan. Tampilkan semua postingan
Selasa, 08 Februari 2011

MUSANG, peliharaan pertama manusia?

MUSANG, peliharaan pertama manusia?

TORONTO - Sebuah penemuan terbaru oleh para antropolog Kanada menyatakan bahwa musang mungkin adalah sahabat manusia paling awal.

Edward Banning dari University of Toronto dan asistennya melaporkan penemuan dari apa yang mereka percayai sebagai kuburan tertua di kawasan Timur Tengah, yakni di sebuah situs di utara Jordania. Demikian seperti yang dikutip dari The Canadian Press, Jumat (4/2/2011).

Mereka mengatakan bahwa kuburan tersebut berisi manusia yang dikubur bersandingan dengan seekor musang merah, mengindikasikan bahwa binatang tersebut mungkin dipelihara oleh manusia, jauh sebelum anjing.

Banning menemukan kuburan berusia 16.500 tahun tersebut pada tahun 2000 ketika melakukan ekspedisi bersama dengan Lisa Maher, seorang asisten profesor antropologi di institut U of T di University of Cambridge.

Banning mengatakan bahwa penggalian terbaru di situs tersebut menemukan 11 jenazah, yang mana kebanyakan dari mereka dikubur bersama dengan alat-alat yang terbuat dari batu, hewan, dan benda-benda lainnya.

Setidaknya ada dua makam yang berisi kerangka dari musang merah, membuat para peneliti mengambil kesimpulan kalau musang bisa saja dipelihara layaknya anjing di masa lalu.

"Yang kita temukan adalah sebuah kasus di mana musang mati dan dikubur bersama dengan pemiliknya," ujar Maher, yang menjadi pengarah dalam penggalian situs tersebut.

“Lalu, kuburan tersebut dibuka kembali dan jenazah manusia telah dipindahkan, bersama dengan jenazah musang tersebut,"

Studi telah menunjukkan bahwa musang bisa dikendalikan oleh manusia, tapi kebiasaan alamiah mereka yang membuat mereka tidak mudah untuk dijinakkan, berbeda dengan anjing yang notabene lebih mudah.

Penelitian sebelumnya menemukan kuburan yang berusia 15 ribu sampai 12 ribu tahun. Beberapa dari kuburan tersebut berisi manusia yang dikubur bersama dengan anjing.

Untuk beberapa kasus di kuburan tersebut, seorang wanita dikubur bersama dengan hewan peliharaannya. Lalu ada juga kuburan yang berisi tiga manusia, dua anjing dan beberapa kura-kura.


Kamis, 16 Desember 2010

Rahasia jaring lengket laba-laba

Rahasia jaring lengket laba-laba


Rahasia jaring lengket laba-laba

Ronny Aditya Tampake/Fotokita.net
Bagaimana jaring laba-laba yang sudah kuat itu bisa lengket dan mempertahankan kelengketan itu pada kondisi lembap? Para ilmuwan menjawabnya.

Tidak semua laba-laba dapat membuat jaring. Tapi, setiap laba-laba dapat menghasilkan benang sutera yang dihasilkan oleh dua kelenjar dalam perut yang mengeluarkan protein di bagian belakang tubuh laba-laba. Helaian serat protein ini sangat tipis, tapi sangat kuat.

Ilmuwan-ilmuwan dari University of Akron di Ohio, Amerika Serikat, melakukan uji coba untuk mencari tahu zat yang disimpan laba-laba untuk memproduksi benang sutra ini. Profesor dari University of Akron Ali Dhinojwala, Kandidat Doktor Vasav Sahni, dan Profesor Biologi Todd Blakledge ingin mengetahui zat yang membuat jaring laba-laba jadi lengket.

Penelitian mereka menunjukkan zat tersebut terbuat dari polimer yang kental dan elastis. Kekentalan dan elastisitas membantu laba-laba menangkap serangga yang terbang dengan cepat. Mangsa pun terjebak di jaring hingga laba-laba dapat melahap mereka.

Dhinojwala membandingkan zat tersebut seperti permen karet karena keduanya sama-sama dapat terus direntangkan. Uniknya lagi, jaring tersebut tidak kehilangan kelengketan meskipun lembap. Ternyata, kelembapan diperlukan untuk mempertahankan elastisitas jaring. Tanpa kelembapan yang memberi sifat elastis, jaring laba-laba akan mudah hancur.

“Yang dilakukan laba-laba adalah evolusi terbaik. Mereka selamat dengan memanfaatkan alam secara efektif,” kata Dhinojwala.

Sebagian besar laba-laba adalah hewan pemangsa. Mereka menunggu mangsa lewat sambil bersembunyi. Bahkan ada yang bisa menyamarkan tubuhnya di atas tanah atau pohon.

Beberapa laba-laba mengeluarkan bisa, misalnya laba-laba Latrodectus mactan. Setelah mangsa terjebak dalam jaring, laba-laba mendekat dan menusukkan taringnya untuk melumpuhkan dan memasukkan enzim pencerna ke dalam tubuh mangsanya.

Laba-laba tidak memiliki mulut atau gigi untuk mengunyah. Jadi, enzim pencernaan sangat membantu dalam proses makan, enzim ini membantu menghancurkan bagian dalam tubuh mangsa. Saat bagian dalam tubuh mangsa sudah berubah menjadi cairan, laba-laba menghisapnya beserta hancuran organ si mangsa.

Ada juga laba-laba yang memiliki rahang yang kuat. Jadi, setelah mangsa terperangkap dalam jaring, laba-laba merusak dan meremuknya dengan rahang dan taringnya itu dan kemudian baru dihisap. 

Laba-laba penenun punya cara lain melumpuhkan mangsa. Mereka dapat membungkus mangsanya dengan lilitan benang sutra. Ini diperlukan jika mangsa memiliki alat pertahanan yang berbahaya, seperti lebah. Cara membungkus ini juga dilakukan laba-laba untuk menyimpan mangsanya sambil menuggu waktu yang tepat untuk makan.

Sumber: care2.com

Seperti apa siput yang kidal?

Seperti apa siput yang kidal?

Seperti apa siput yang kidal?
Manusia kidal dinilai dari tangannya. Siput kidal dinilai dari cangkangnya. Kenapa kidal?
Siput kidal ditemui pada jenis siput satsuma yang berhabitat di Jepang. Siput satsuma kidal memiliki alur lingkaran cangkang berlawanan arah jarum jam, sementara siput satsuma normal kebalikannya.
Siput kidal juga memiliki posisi alat kelamin yang berbeda dari siput normal, satu di kanan dan satu di kiri. Karenanya, siput kidal tak bisa kawin dengan siput normal, menciptakan fenomena ketidaksesuaian reproduksi.

Masaki Hoso dari Tohoku University di Sendai dan timnya tertarik mengetahui manfaat kekidalan siput tersebut dalam upaya mempertahankan diri dari predatornya serta mengetahui manfaat evolusionernya.

Hoso dan timnya lalu mendesain eksperimen predasi. Ia meletakkan siput kidal di tempat yang sama dengan predatornya, ular pemakan siput Pareasiwasaki. Ia membiarkan ular tersebut melakukan serangan pada siput.

Lewat hasil pengamatannya, Hoso menguraikan, untuk memakan siput, ular tersebut mengambil siput dari dalam cangkangnya. "Ketika menyerang, kepala ular selalu miring ke kiri," kata Hoso.
Karena miringnya kepala ke arah kiri, Hoso mengatakan bahwa ular tersebut tak bisa menangkap siput dan mengeluarkan dari cangkangnya. Alhasil, siput pun selamat dari proses predasi tersebut.
Hoso dan timnya mengungkapkan, ke-kidal-an siput itu sangat berpengaruh terhadap upayanya untuk mempertahankan diri dari serangan predator. Diketahui, siput kidal lebih sulit untuk dimakan daripada siput normal.

Hoso menuliskan dalam publikasinya, "Studi ini menunjukkan bahwa satu gen yang berpengaruh terhadap ketidaksesuaian reproduksi bisa memacu terbentuknya spesies baru lewat proses seleksi alam."

Sumber: Kompas.com
Jumat, 05 November 2010

Beberapa jenis kucing liar

1. Andean montain cat
The Andean Mountain Cat (Leopardus jacobita) sangat jarang terlihat, sebagai habitat yang dibatasi ke pegunungan Bolivia, Peru, Argentina, dan Chile pada ketinggian di atas garis pohon. Populasi total diperkirakan hanya sekitar 2500. kucing ini tumbuh hanya sekitar dua meter panjangnya, hampir tidak lebih besar dari kucing rumah, dengan ekor tebal panjang yang bisa memberikan imbangan yang berguna untuk melakukan manuver di sekitar pegunungan.
2. Pallas’s cat
Pallas’s The Cat (Otocolobus manul) disebut juga “Manul”. Hanya seukuran kucing domestik, tapi tampaknya lebih berat karena bulu yang padat. Pallas’s The Cat berbeda dari kucing lain dalam hal ini memiliki mata bulat dan celah dan gigi yang lebih sedikit, memberikan penampilan yang berwajah relatif datar. kucing ini berkisar dari Eropa Timur ke Siberia, menjelajahi ketinggian lebih tinggi dari Timur Tengah dan Asia. Hal ini dianggap sebagai spesies kucing tertua, yang berkembang sekitar 12 juta tahun yang lalu. Meskipun kucing ini jarang ditemukan , Anda mungkin akrab dengan kucing karena foto populer dari sebuah poster.
3. Margay
Margay (Leopardus wiedii) menyerupai kucing rumahan, tetapi lebih kecil sebagai kucing rumah. Margay juga memiliki kaki yang relatif lebih panjang dari sebuah kucing rumah dan merupakan pemanjat pohon yang sangat baik. kucing ini tersebar di wilayah membentang dari Mexico ke bawah melalui Brazil. Spesies ini dekat-terancam jarang terlihat, karena hanya berburu di malam hari dan tetap tersembunyi di hutan hujan.



4. Fishing cat
Fishing Cat (Prionailurus viverrinus) terdapat di asia selatan dan Asia Tenggara, di mana ia lebih suka tinggal di dekat air yang lebih baik untuk mencari ikan, tentu saja! Ini adalah kucing perenang pertama dari keluarga kucing. kucing ini terdaftar sebagai hewan yang terancam punah karena habitatnya sedang dihancurkan sebagai lahan basah yang dikeringkan untuk digunakan manusia.

5. Serval
Serval (Leptailurus serval) adalah salah satu jenis kucing liar Afrika yg berkaki panjang yang diyakini nenek moyang kuno singa dan cheetah. kucing Ini mendiami wilayah padang savana Afrika. kucing ini memiliki kepala kecil dan kaki panjang yg sangat efisien untuk mengejar mangsa , Mereka juga sangat cerdas. Serval adalah kucing liar yang paling sering dipelihara sebagai hewan peliharaan rumah.
6. Caracal
Caracal (Caracal caracal) memiliki penampilan khas Amerika Utara, kucing ini tumbuh dengan baik, dan hidup di Afrika dan Asia. Kucing ini tumbuh tipis tinggi sekitar tiga meter panjangnya. Caracal lebih suka hidup di gunung atau daerah gurun, dan dapat bertahan hidup tanpa air lebih lama daripada kucing lainnya. Walaupun jarang terlihat, Caracal berlimpah di alam liar, dan kadang-kadang disimpan sebagai hewan peliharaan.


7. African Golden Cat
African Golden Cat (Profelis aurata) tidak selalu berwarna emas. Bahkan, warnanya sangat bervariasi antara individu, mulai dari emas kemerahan menjadi abu-abu gelap dengan tanda khusus pada beberapa kucing dan dada yang lebih terang Hal ini juga dapat berubah warna selama siklus hidupnya. Golden Cat asli hidup di hutan hujan Afrika khatulistiwa. kucing Ini jarang terlihat, kucing tumbuh panjang 30-32 inci dan beratnya sampai 40 kilogram. Cat Golden diklasifikasikan sebagai hewan hampir terancam punah.

8. Sand cat
Sand cat (Felis margarita) tinggal di padang pasir Afrika, Semenanjung Arab, dan Asia Barat. ukurannya sama kayak kucing domestik, dengan bulu yg lebih tebal. Sand cat memiliki kepala lebar dan bulu tumbuh di antara kaki, kelebihan yang sering ditemukan pada kucing Arktik. tujuannya untuk adaptasi kaki terhadap lingkungan, akan tapi tetap kaki Cat Sand dilindungi dari permukaan yang panas. Kucing ini terdaftar sebagai hewan terancam punah, pemburuannya dilarang di banyak negara.
9. Lynx 
Lynx adalah salah seekor dari 17 jenis kucing liar yang berukuran sedang. Semuanya adalah anggota dari genus Lynx, namun ada banyak kekacauan tentang cara terbaik untuk menggolong-golongkan spesies felis di masa kini. Sebagian ahli menggolongkan mereka sebagai bagian dari genus Felis. Lynx mempunyai ekor pendek, dan biasanya dengan sejumput bulu hitam pada ujung telinganya. Mereka memiliki lingkaran di bawah lehernya yang memiliki garis-garis hitam (tak begitu terlihat) dan kelihatan seperti dasi kupu-kupu. Mereka mempunyai cakar yang besar dengan lapisan tebal untuk berjalan di salju, serta kumis yang panjang di mukanya. Warna tubuhnya berbeda-beda dari coklat muda hingga abu-abu, dan biasanya ditandai dengan bintik-bintik coklat tua, khususnya pada keempat kakinya. Berat mereka sekitar 15 kg hingga sekitar 30 kg. Lynx Eurasia lebih besar daripada spesies yang lainnya. Lynx Iberia jauh lebih kecil daripada spesies-spesies lainnya. 
















10. The Bornean Clouded Leopard
The Bornean Clouded Leopard (Neofelis diardi) adalah kucing berukuran sedang. Kucing liar yang ditemukan di Kalimantan, Sumatra dan Kepulauan Batu di Kepulauan malay dan dipublikasikan di bawah nama oleh World Wildlife Fund for Nature (WWF) pada tanggal 14 Maret 2007. Mantel yang ditandai dengan berbentuk tidak teratur, gelap bermata oval dan totol yang dikatakan berbentuk seperti awan.
  
 
 
 
 
 
 
11. Kucing Hutan
Prionailurus bengalensis
Kucing hutan yang di Jawa sering disebut sebagai ‘meong congkok’ dan dalam bahasa latin (ilmiah) dinamakan bengalensis, merupakan salah satu spesies kucing liar yang dilindungi di Indonesia. Kucing hutan atau Prionailurus bengalensis, dalam bahasa Inggris disebut sebagai leopard cat lantaran bulunyanya yang mempunyai totol-totol menyerupai carak kulit macan tutul (leopard) meskipun secara taksonomi keduanya berbeda genus. Kucing hutan bergenus Prionailurus sedang genus macan tutul adalah Panthera. Ukuran Kucing Hutan/bengal/akar sama seperti kucing domestik, tetapi ada perbedaan regional yang pantas dipertimbangkan. Species ini bisa ditemukan di Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Bali. Di Indonesia, rata-rata ukuran kucing hutan ini mencapai 45 cm, panjang ekornya 20 cm. 60cm/40cm di daerah Amur. Tinggi bahunya adalah 41 cm dan beratnya 4.5-6.8 kg, sama dengan kucing domestik. Warna bulunya variatif, kuning di selatan, tetapi abu-abu-silver di utara. Bulunya halus dan pendek. Warna khas kuning kecoklatan dengan belang-belang hitam dari bagian kepala sampai tengkuk, lainnya bertotol-totol hitam. Makanannya berupa binatang kecil seperti tikus, bajing, burung, tupai, marmot, kadal, kancil, kelelawar, dan kelinci. Berhabitat di hutan primer dan sekunder dengan ketinggian 1.500 m. Kadang-kadang dijumpai di dekat perkampungan. Kingdom: Animalia Phylum: Chordata Class: Mammalia Order: Carnivora Family: Felidae Genus: Prionailurus
Species: P. bengalensis
 
 
 
12.  Kucing Merah (Pardofelis badia)
Kucing Merah atau yang dalam bahasa latin disebut Pardofelis badia merupakan salah satu spesies kucing kecil endemik pulau Kalimantan. Sayangnya tidak banyak yang mengenal kucing merah yang langka ini.
Kucing Merah ini merupakan saudara dekat dan masih satu nenek moyang dengan Kucing Emas (Asian Golden Cat) yang banyak terdapat di Sumatera, dan beberapa negara Asia Tenggara. Diperkirakan kucing endemik kalimantan ini telah ada sejak 4 juta tahun yang silam saat pulau Kalimantan masih bersatu dengan daratan Asia.


Ciri-ciri dan Perilaku. Kucing Merah (Borneo Bay Cat) mempunyai bulu berwarna coklat kemerah-merahan walaupun ada varian yang berwarna keabu-abuan. Bagian bawah tubuh Kucing Kalimantan berwarna lebih pucat daripada bagian atas. Terdapat garis warna merah kecokelatan agak muda pada kening dan pipi. Telinga kucing langka ini berwarna hitam atau cokelat tua, dan pada ekor bergaris putih dengan bintik hitam diujung ekor.
 
Powered By Blogger
Indonesian English Chinese Simplified Arabic French Japanese Korean German Spain Italian Dutch Russian

Yang mw tukar link...

Link nya aja!! Otnice!! Link sama banner!! banner Copy kode Link di atas, saya akan segera linkback setelah anda kirim pesan di buku tamu

Labels

Asal Usil (1) Flora Fauna Indonesia (10) Hewan Peliharaan (16) Kesehatan (7) Tips (2) Umum (6) uniknya dunia hewan (4) Visit Indonesia (4)

Guest Book d(^o^)b

Selamat Datang di blog saya
Awal selalu yang tersulit, begitupun dengan blog. Baru bisa Copy paste artikel-artikel dari blog lain, Tapi ada sih beberapa yang ditulis sendiri. Yang mau tukeran coment, follow, atau like's, isi aja buku tamunya ya!!! Kalau sobat udah follow, konfirmasi aja. Insya'Allah saya follow balik deh... Apapun jadinya, semoga bisa bermanfaat bagi kita semua. Maaf ya masih berantakan, kalau nanti ada waktu pasti di beresin ko! hehehe...

Salam...



Yang Ngintil...

Foto saya
Ga suka tempat berisik dan ramai, tapi suka bikin rame sendiri.